Refleksi Ekonomi & Kebangsaan

HUT RI ke-81: Kemerdekaan Ekonomi, Akses Pendidikan Tinggi, dan Realitas Kampus Rakyat di Banten

Refleksi analitis memperingati 81 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 2026. Menelaah tantangan ketenagakerjaan di Banten, peran strategis sarjana ekonomi dalam memutus rantai kemiskinan antargenerasi, serta makna kemerdekaan sejati melalui akses pendidikan tinggi yang inklusif.

Bersama STIE Dwimulya · Terbit

Gedung kampus STIE Dwimulya di Kota Serang merefleksikan semangat kemerdekaan melalui pendidikan.

Delapan puluh satu tahun telah berlalu sejak naskah proklamasi kemerdekaan dibacakan di Pegangsaan Timur pada 17 Agustus 1945. Dalam kurun waktu lebih dari delapan dekade tersebut, Republik Indonesia telah menempuh perjalanan transformasi sosio-ekonomi yang luar biasa: dari sebuah bangsa agraris yang baru melepaskan diri dari belenggu kolonialisme, menjadi salah satu kekuatan ekonomi utama di kawasan Asia Tenggara dengan populasi usia produktif yang sangat masif.

Namun, ketika bangsa ini merayakan peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan ke-81 pada 17 Agustus 2026, sebuah pertanyaan mendasar tetap relevan dan mendesak untuk diajukan dari sudut pandang akademis: sejauh mana kemerdekaan politik dan kedaulatan hukum yang telah diraih telah bertransformasi menjadi kemerdekaan ekonomi yang hakiki bagi seluruh lapisan masyarakat, khususnya di tingkat akar rumput daerah?

Di Provinsi Banten — tanah para jawara dan ulama yang kini berdiri sebagai salah satu koridor industri manufaktur berat, petrokimia, dan logistik maritim terpadat di Pulau Jawa — pertanyaan mengenai kemerdekaan ekonomi menemukan bentuknya yang paling konkret, dinamis, dan menantang. Di sinilah letak relevansi krusial sebuah institusi pendidikan tinggi ilmu ekonomi: menjembatani kesenjangan struktural antara potensi pertumbuhan makroekonomi dengan realitas kesejahteraan mikro keluarga kelas pekerja.

Paradoks Perekonomian Banten: Pertumbuhan Industri di Tengah Kesenjangan Keterampilan

Secara geografis dan statistik makroekonomi, Banten menempati posisi yang sangat strategis dalam konstelasi ekonomi nasional. Berada tepat di gerbang barat Pulau Jawa dan menjadi penghubung vital jalur pelayaran serta perdagangan Selat Sunda, Banten menyumbang angka Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) yang sangat signifikan bagi perekonomian Indonesia. Koridor industri Cilegon, Serang Barat, Tangerang Raya, hingga kawasan pelabuhan Merak dipenuhi ratusan pabrik skala multinasional, kawasan pergudangan logistik modern, pembangkit listrik strategis nasional, serta pusat-pusat perdagangan grosir yang bernilai ratusan triliun rupiah.

Namun di balik gemerlap kawasan industri dan realisasi investasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) maupun Penanaman Modal Asing (PMA) yang terus mencatatkan rekor peningkatan setiap tahun, Banten secara konsisten menghadapi tantangan struktural ketenagakerjaan yang tidak sederhana. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di wilayah perkotaan dan kawasan penyangga industri kerap kali berada di atas rata-rata nasional.

Fenomena ini menghadirkan apa yang di dalam teori ekonomi pembangunan dan sosiologi industri disebut sebagai structural skills mismatch — yakni ketidaksesuaian fundamental antara profil kompetensi yang dimiliki oleh angkatan kerja lokal dengan standar kualifikasi teknis dan manajerial yang dibutuhkan oleh industri modern.

Di satu sisi, kawasan industri membutuhkan tenaga kerja yang menguasai manajemen rantai pasok digital, sistem pencatatan keuangan berstandar akuntansi internasional, kepatuhan perpajakan korporasi, serta kemampuan manajerial operasional yang adaptif. Di sisi lain, sebagian besar angkatan kerja muda di pedesaan Pandeglang, Lebak, serta perkampungan pesisir Serang hanya menyelesaikan pendidikan tingkat menengah, sehingga terkunci pada sektor informal dengan upah harian tanpa jaminan perlindungan sosial, atau bekerja sebagai operator kontrak lini pertama dengan risiko pemutusan hubungan kerja yang tinggi akibat otomatisasi pabrik.

Tanpa adanya lompatan kualifikasi melalui pendidikan tinggi yang relevan, generasi muda ini berisiko mengalami jebakan upah menengah bawah (lower-middle income trap) yang berulang secara antargenerasi. Di titik inilah konsep kemerdekaan perlu didefinisikan ulang secara operasional: kemerdekaan di abad ke-21 bukan lagi sekadar ketiadaan penindasan fisik dari bangsa asing, melainkan ketersediaan kapasitas kapabilitas riil (substantive freedom) bagi setiap warga negara untuk memilih jalan hidup yang bermartabat, memiliki ketahanan finansial keluarga, serta berpartisipasi aktif dalam penciptaan nilai tambah ekonomi daerahnya.

Teori Modal Manusia dan Peran Strategis Sarjana Ekonomi

Dalam literatur ekonomi klasik dan modern, khususnya Teori Modal Manusia (Human Capital Theory) yang dipelopori oleh ekonom peraih Nobel Theodore Schultz dan Gary Becker, investasi pada pendidikan tinggi formal diakui sebagai faktor penentu paling dominan dalam meningkatkan produktivitas marjinal tenaga kerja, mendorong inovasi teknologi, serta menciptakan mobilitas sosial vertikal antargenerasi.

Ketika seorang anak dari keluarga buruh pabrik, petani kecil, atau pedagang pasar tradisional di Banten berhasil menuntaskan jenjang sarjana strata satu (S1) di bidang ekonomi — baik pada Program Studi Manajemen maupun Akuntansi — struktur kesejahteraan dan pola pikir keluarga tersebut mengalami pergeseran fundamental yang bersifat permanen.

Gelar sarjana ekonomi bukan semata selembar ijazah administratif untuk melamar pekerjaan pada portal lowongan kerja. Di balik gelar tersebut, terdapat seperangkat kompetensi kognitif, analitis, dan etis yang mengubah cara seseorang memandang dan mengelola sumber daya:

1. Penguasaan Literasi Keuangan dan Alokasi Modal Usaha

Melalui pembelajaran intensif manajemen keuangan, analisis kelayakan investasi pasar modal, akuntansi biaya produksi, dan evaluasi arus kas, seorang sarjana ekonomi memiliki kemampuan membaca realitas finansial dengan presisi tinggi. Mereka mengerti bagaimana membedakan antara aset produktif yang menghasilkan arus kas masuk dengan liabilitas konsumtif yang membebani neraca keuangan keluarga. Mereka memahami cara merancang arus kas operasional usaha mikro agar terhindar dari krisis likuiditas, serta memahami cara mengakses pembiayaan perbankan formal tanpa terjebak dalam perangkap pinjaman online ilegal atau rentenir berkedok koperasi yang kian marak menggerogoti masyarakat berpenghasilan rendah.

2. Keterampilan Pengambilan Keputusan Bisnis Berbasis Data

Dalam era disrupsi kecerdasan buatan (AI) dan otomatisasi niaga elektronik, dunia bisnis tidak lagi dapat dikelola hanya dengan intuisi atau kebiasaan lama. Mahasiswa Manajemen yang dilatih dengan kerangka Outcome-Based Education (OBE) dibekali kemampuan membaca tren data pasar, memetakan segmentasi perilaku konsumen digital, merancang strategi bauran pemasaran terukur, serta mengoptimalkan efisiensi rantai pasok lokal. Keterampilan ini memungkinkan lulusan untuk memimpin unit usaha kecil agar mampu bersaing dengan merek-merek besar nasional di pasar digital.

3. Akuntabilitas, Audit Internal, dan Tata Kelola Etis

Lulusan program studi Akuntansi memegang peran krusial sebagai penjaga integritas dan keadilan distribusi sumber daya organisasi. Penguasaan Standar Akuntansi Keuangan (SAK), sistem pengendalian intern, metodologi audit forensik, serta regulasi perpajakan nasional memastikan bahwa setiap rupiah dalam organisasi bisnis maupun instansi pemerintahan dikelola secara transparan dan akuntabel. Di daerah berkembang seperti Provinsi Banten, ketersediaan profesional akuntansi yang berintegritas dan berkompetensi tinggi adalah syarat mutlak bagi terciptanya iklim investasi yang sehat, iklim usaha yang kompetitif, serta tata kelola pemerintahan daerah yang bersih dari praktik korupsi dan manipulasi anggaran.

Realitas “Kampus Rakyat”: Menjawab Dilema Akses dan Menolak Menara Gading

Jika pendidikan tinggi ekonomi terbukti menjadi eskalator mobilitas sosial yang sedemikian ampuh, mengapa angka partisipasi kasar pendidikan tinggi di daerah-daerah penyangga masih menghadapi tantangan yang nyata?

Jawabannya bermuara pada persoalan elitisme kelembagaan dan hambatan biaya struktural. Banyak perguruan tinggi terkemuka menerapkan biaya kuliah yang sangat tinggi dengan uang pangkal berjenjang yang tidak terjangkau bagi kantong pekerja biasa. Di samping itu, banyak kampus menyelenggarakan jadwal perkuliahan yang kaku pada jam kerja produktif (Senin sampai Jumat pagi), serta berlokasi jauh di pusat-pusat kota metropolitan sehingga menuntut biaya transportasi dan tempat tinggal yang sangat membebani keluarga kelas pekerja.

Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Dwimulya didirikan pada tahun 2009 di Kota Serang dengan kesadaran penuh untuk menjadi antitesis terhadap model elitisme menara gading tersebut. Mengusung identitas kultural sebagai “Kampus Rakyat”, STIE Dwimulya meletakkan fondasi institusionalnya pada tiga komitmen keberpihakan yang nyata:

A. Keterjangkauan Finansial yang Berkeadilan Sosial

Dengan skema pembiayaan Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) yang dapat diangsur secara bulanan, STIE Dwimulya memastikan bahwa keterbatasan modal awal tidak menjadi alasan bagi anak bangsa untuk mengubur impian meraih gelar sarjana. Kampus tidak memungut biaya gedung yang diskriminatif, menjaga transparansi administrasi keuangan, serta secara proaktif menyalurkan program bantuan pemerintah seperti Program Indonesia Pintar (KIP Kuliah) dan beasiswa subsidi yayasan bagi mahasiswa berprestasi dari keluarga tidak mampu.

B. Fleksibilitas Waktu bagi Mahasiswa Pekerja

Melalui penyediaan program Kelas Karyawan pada hari Sabtu yang didukung oleh sistem pembelajaran hibrida dan modul digital interaktif, kampus membuka pintu seluas-luasnya bagi ribuan pekerja pabrik, tenaga honorer sekolah dan desa, staf administrasi swasta, serta wirausahawan pemula di Banten untuk menyelesaikan studi sarjana tanpa harus mengorbankan mata pencaharian harian mereka. Model pembelajaran ini adalah bentuk penghormatan institusi terhadap realitas perjuangan hidup mahasiswanya.

C. Kurikulum Berbasis Dampak Komunitas Lokal

Pendidikan di STIE Dwimulya dirancang bukan untuk mengasingkan mahasiswa dari akar realitas sosialnya, melainkan untuk memperkuat daya saing lingkungannya. Melalui program Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Tematik, praktikum kewirausahaan berbasis UMKM, serta penelitian tugas akhir yang membedah masalah ekonomi riil di desa-desa Banten, mahasiswa diajak untuk langsung menjadi bagian dari solusi pengembangan ekonomi kerakyatan — mulai dari modernisasi kemasan produk lokal, pendampingan legalitas Nomor Induk Berusaha (NIB), hingga digitalisasi pembukuan keuangan warung dan pedagang pasar tradisional.

Mengisi Kemerdekaan ke-81: Dari Sertifikat Menuju Kedaulatan Nyata

Peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan ke-81 Republik Indonesia pada 17 Agustus 2026 harus menjadi momentum refleksi bersama bagi seluruh jajaran civitas akademika, pengelola perguruan tinggi, dan pemangku kebijakan daerah di Banten. Dekade mendatang akan menghadapkan dunia pendidikan tinggi pada tantangan global yang semakin kompleks: dinamika geopolitik ekonomi, disrupsi rantai pasok internasional, otomatisasi kecerdasan buatan, serta transisi menuju ekonomi hijau yang berkelanjutan.

Dalam lanskap yang penuh ketidakpastian tersebut, perguruan tinggi tidak boleh berpuas diri dengan sekadar menerbitkan lembaran ijazah kelulusan formal. Kurikulum Outcome-Based Education (OBE) harus terus diperbarui agar selaras dengan kebutuhan industri terkini, kapasitas pedagogis dan riset para dosen harus terus ditingkatkan melalui program sertifikasi dosen dan publikasi ilmiah berkala, serta penjaminan mutu internal kampus harus ditegakkan secara konsisten.

Pendidikan ekonomi yang sejati harus mampu menumbuhkan daya tahan (resilience) dan kemandirian (self-reliance) di dalam jiwa setiap mahasiswa. Dengan demikian, lulusan yang dilahirkan tidak gentar menghadapi pasang surut gelombang ekonomi, melainkan senantiasa memiliki kelenturan untuk berinovasi dan membuka lapangan kerja baru bagi lingkungannya.

Namun demikian, di balik semua upaya modernisasi standar akademik dan digitalisasi sistem kampus, satu hal yang paling mendasar tidak boleh luntur: jiwa kerakyatan, kerendahan hati, dan ketulusan dalam melayani mereka yang paling membutuhkan akses ilmu pengetahuan.

Kemerdekaan sejati adalah ketika seorang anak buruh di Serang memiliki peluang yang sama untuk menjadi manajer keuangan yang andal; ketika seorang pekerja pabrik di Cilegon mampu meningkatkan derajat kariernya melalui gelar sarjana manajemen; dan ketika seorang pelaku usaha mikro di pedesaan Pandeglang mampu mengelola bisnisnya secara mandiri berkat pendampingan mahasiswa dan dosen di kampusnya.

Di sanalah letak kehormatan sejati dari sebuah perguruan tinggi. Dirgahayu Republik Indonesia ke-81. Merdeka bangsanya, berdaulat ilmunya, dan sejahtera seluruh rakyatnya.