Reportase: Suasana Hangat Pengajian Jumat Perdana di Kampus STIE Dwimulya
Liputan langsung dari kegiatan pengajian rutin perdana civitas akademika STIE Dwimulya pada Jumat malam, 14 Agustus 2026. Dimulai dengan salat Magrib berjamaah dan dilanjutkan tausiyah oleh Dr. H. Tb. Agus Khoironi dalam suasana kebersamaan yang guyub.
Langit di atas Kota Serang perlahan berganti temaram ketika jarum jam menunjukkan pukul 17.45 WIB pada Jumat petang, 14 Agustus 2026. Di pelataran kampus STIE Dwimulya yang beralamat di koridor utama penghubung Serang dan Pandeglang, deru lalu lintas kendaraan yang biasanya mendominasi sore hari mulai surut, tergantikan oleh ketenangan senja dan derap langkah kaki para dosen, staf tenaga kependidikan, serta perwakilan mahasiswa yang satu per satu berdatangan memenuhi ruang utama kampus.
Malam itu bukan malam perkuliahan biasa. Tidak ada layar proyektor yang menayangkan kurva manajemen keuangan atau papan tulis yang dipenuhi rumus neraca lajur akuntansi. Di ruangan tengah gedung kampus yang bersih dan lapang, karpet panjang berwarna merah marun telah terbentang rapi, menciptakan suasana yang bersahaja dan sangat akrab. Ini adalah penanda dimulainya tradisi baru yang telah lama dinantikan: Pengajian Rutin Mingguan yang digagas sebagai ruang berteduh rohani, penguat ikatan silaturahmi, dan penyeimbang batiniah bagi seluruh keluarga besar civitas akademika STIE Dwimulya.
Suasana Menjelang Kumandang Azan Magrib
Sejak pukul 17.15 WIB, panitia kecil yang dikoordinasikan langsung oleh Pak Agus Gunawan telah sibuk mempersiapkan ruangan. Lampu-lampu ruangan dinyalakan dengan pencahayaan yang teduh dan menenangkan, susunan air minum mineral serta nampan kudapan kue tradisional khas Banten ditata rapi di sudut meja, sementara alunan murattal Al-Qur’an bersuara lembut mengiringi kedatangan para jemaah.
Satu per satu sivitas akademika hadir menyapa dengan senyum tulus. Terlihat Bu Ela Susila tiba dengan wajah berseri, menyapa hangat rekan-rekan staf administrasi kampus yang baru saja merapikan dokumen pendaftaran mahasiswa baru. Tak lama berselang, beberapa dosen yang baru menyelesaikan sesi konsultasi bimbingan tugas akhir dan revisi kurikulum semester ganjil turut bergabung. Kehangatan langsung terasa saat jabat tangan, salam, dan sapaan khas Sunda-Banten saling bertukar di antara mereka yang hadir. Tidak ada sekat jabatan struktural, tidak ada formalitas birokrasi yang kaku — semuanya duduk bersila bersama di atas hamparan karpet yang sama.
Tepat pukul 18.02 WIB, lantunan azan Magrib berkumandang merdu di dalam gedung kampus. Seluruh hadirin dengan tertib segera merapikan saf, mengambil posisi berdiri sejajar. Dr. H. Tb. Agus Khoironi — akademisi senior sekaligus tokoh masyarakat Banten yang malam itu didaulat menjadi pembimbing kajian — melangkah ke barisan depan untuk memimpin salat Magrib berjamaah.
Suasana hening seketika menyelimuti ruangan begitu takbiratul ihram dikumandangkan. Di tengah riuhnya dinamika perkotaan dan kesibukan dunia akademik yang serba cepat, momen salat berjamaah ini menghadirkan jeda spiritual yang sangat khusyuk dan menyejukkan bagi seluruh jemaah yang hadir.
Tausiyah dan Pesan Mendalam dari Dr. H. Tb. Agus Khoironi
Seusai zikir dan doa bersama ba’da salat Magrib, para jemaah membentuk formasi melingkar menghadap narasumber utama. Pengajian perdana yang bersejarah ini mengangkat tema sentral yang sangat kontekstual dengan kehidupan kampus: “Merawat Keberkahan dalam Menuntut, Mengamalkan, dan Menyebarkan Ilmu di Lingkungan Pendidikan Tinggi.”
Dalam tausiyahnya yang berlangsung selama kurang lebih lima puluh menit, Dr. H. Tb. Agus Khoironi menyampaikan pemaparan dengan gaya tutur yang khas: tenang, mendalam, kaya akan hikmah keislaman, serta dipenuhi perumpamaan praktis yang sangat dekat dengan realitas keseharian seorang pendidik dan pembelajar.
“Sebuah perguruan tinggi tidak boleh dipandang semata-mata sebagai pabrik pencetak ijazah formal atau tempat transaksi administratif antara pengajar yang menuntut imbalan dan mahasiswa yang membayar biaya kuliah,” tutur Dr. Tb. Agus membuka pemaparannya dengan nada yang menggugah kesadaran. “Nilai hakiki dan martabat tertinggi dari sebuah institusi pendidikan terletak pada keberkahan ilmu yang lahir di dalamnya. Ketika seorang dosen melangkah ke ruang kelas dengan niat tulus mencerdaskan kehidupan generasi muda, melayani mahasiswa yang sedang berjuang dengan penuh empati, serta menjaga kejujuran dan integritas ilmiah, di situlah Allah SWT menitipkan kemuliaan, ketenteraman, dan keberkahan bagi lembaga kita.”
Beliau kemudian menguraikan keterkaitan erat antara nilai-nilai spiritual dan etika keilmuan dalam bidang ekonomi dan bisnis. Menurut beliau, ilmu Manajemen dan Akuntansi yang menjadi fondasi pembelajaran di STIE Dwimulya sesungguhnya bermuara pada prinsip amanah, keadilan, dan kemaslahatan umum.
“Dalam akuntansi, kita diajarkan tentang presisi neraca dan transparansi pencatatan. Di dalam ajaran Islam, hal itu adalah perwujudan dari sifat jujur (shiddiq) dan dapat dipercaya (amanah). Begitu pula dalam manajemen, kita belajar tentang kepemimpinan yang adil dan pembagian kerja yang manusiawi. Jika ilmu-ilmu ekonomi ini dijiwai dengan kesadaran ketuhanan, maka lulusan kita kelak tidak hanya akan menjadi tenaga kerja yang cakap, melainkan juga benteng moral yang mencegah kecurangan, korupsi, dan eksploitasi di tempat kerja mereka masing-masing,” papar beliau dengan runtut.
Beliau juga menggarisbawahi pentingnya menjaga persaudaraan (ukhuwah islamiyah) dan kebersihan hati di tengah berbagai tekanan kerja dan tantangan kelembagaan modern. Dalam pandangan beliau, beban kerja dosen (BKD), tenggat waktu pengisian sistem SISTER, target publikasi jurnal terakreditasi, hingga dinamika penerimaan mahasiswa baru adalah ikhtiar lahiriah yang memang wajib dijalankan dengan profesionalisme dan standar mutu terbaik. Namun demikian, orientasi batiniah dan sandaran hati harus senantiasa dipasrahkan kepada ketetapan Allah Yang Maha Pemurah.
“Ada saat-saat di mana kita merasa lelah mengejar target-target administratif yang tiada habisnya. Ada kalanya sistem digital mengalami kendala atau rencana tidak berjalan sesuai harapan kita di atas kertas. Majelis pengajian seperti inilah tempat kita menata kembali niat dan mengisi ulang bekal batiniah kita. Jangan sampai kecerdasan intelektual dan keahlian teknis kita terus bertambah, tetapi kelembutan hati, kepekaan spiritual, dan kepedulian sosial kita kepada sesama justru semakin menipis,” pesan beliau yang disambut anggukan khidmat dan renungan mendalam dari seluruh peserta.
Dialog Terbuka, Aspirasi, dan Refleksi Kebersamaan
Salah satu keistimewaan majelis pengajian di STIE Dwimulya adalah atmosfernya yang cair, egaliter, dan partisipatif. Seusai penyampaian materi tausiyah, acara dilanjutkan dengan sesi dialog terbuka dan saling berbagi refleksi pengalaman di antara para dosen dan staf tenaga kependidikan.
Pak Agus Gunawan, selaku penggagas inisiatif ini, menyampaikan rasa syukur dan haru atas terwujudnya pertemuan perdana tersebut.
“Alhamdulillah, gagasan sederhana yang berawal dari obrolan ringan di ruang dosen ini akhirnya bisa terlaksana berkat dukungan dan keikhlasan bapak dan ibu sekalian,” ujar Pak Agus di hadapan jemaah. “Harapan besar kami, majelis mingguan ini dapat terus istikamah berjalan setiap Jumat malam. Di sinilah kita bisa saling mendoakan, saling menguatkan di saat ada rekan kita yang sedang diuji kesulitan, serta mempererat rasa kekeluargaan di luar jam kerja kedinasan.”
Bu Ela Susila turut menyampaikan kesannya selama mengikuti acara. Menurut beliau, suasana kekeluargaan yang hadir dalam pengajian ini memberikan suntikan energi positif yang sangat nyata. “Sepanjang pekan kita disibukkan dengan urusan perkuliahan, melayani calon mahasiswa baru yang datang bertanya, dan mempersiapkan administrasi semester ganjil. Begitu duduk bersama di majelis ini dan mendengarkan tausiyah dari Pak Kiai Agus Khoironi, rasanya pikiran kembali segar dan hati menjadi lebih lapang. Ini membuktikan bahwa kebersamaan kita di kampus ini lebih dari sekadar hubungan kerja, melainkan keluarga seperjuangan,” ungkap Bu Ela.
Di ruang komunikasi digital kampus, antusiasme dan rasa kebersamaan ini juga disambut hangat oleh para dosen yang kebetulan berhalangan hadir secara fisik karena tugas dinas atau jadwal mengajar di tempat lain. Bu Arrum Fathia menyampaikan permohonan maaf dan salam hangat karena tengah mengampu kelas pelatihan hingga malam, seraya mendoakan keberkahan majelis. Bu Srimulyati dan beberapa rekan lainnya turut mengirimkan doa dan pesan dukungan, menegaskan bahwa ikatan batiniah keluarga besar STIE Dwimulya melampaui batas kehadiran fisik semata.
Ramah Tamah dan Tradisi Berbagi dalam Kesederhanaan
Menjelang masuknya waktu salat Isya, rangkaian pengajian ditutup dengan doa penutup majelis yang dipimpin langsung oleh Dr. Tb. Agus Khoironi. Doa tersebut dipanjatkan secara khusus memohon kesehatan, keselamatan, kelapangan rezeki, kemudahan studi bagi seluruh mahasiswa, serta kemajuan dan keberlanjutan bagi STIE Dwimulya dalam menjalankan amanah mencerdaskan masyarakat di Tanah Jawara.
Setelah salat Isya berjamaah ditunaikan dengan tertib, suasana ruangan bertransformasi menjadi semakin akrab dan penuh kehangatan saat sesi ramah tamah dimulai. Hidangan santap malam sederhana yang dipersiapkan secara gotong royong dinikmati bersama-sama di atas alas terpal yang digelar di samping ruangan utama.
Obrolan hangat mengalir tanpa sekat dan tanpa rasa kaku — mulai dari kisah-kisah inspiratif mendampingi mahasiswa kelas pekerja yang berjuang menyelesaikan tugas di sela waktu istirahat pabrik, pengalaman mengelola penelitian ekonomi mikro di desa-desa Banten, hingga ide-ide kreatif untuk memajukan kegiatan ekstrakurikuler kemahasiswaan pada semester ganjil mendatang. Tawa renyah dan canda santun sesekali memecah keheningan malam, memperlihatkan wajah sejati dari sebuah perguruan tinggi: bukan sekadar susunan bata dan dinding beton, melainkan sebuah komunitas manusia yang hidup, peduli, dan saling menopang satu sama lain dalam menghadapi setiap babak perjalanan.
Pak Eman Diantoro yang turut hadir berbincang santai mengisahkan bagaimana pentingnya menjaga kekompakan tim kerja di tengah padatnya jadwal evaluasi akademik. “Ketika kita saling percaya dan memiliki ruang untuk berbagi seperti ini, tugas-tugas seberat apa pun akan terasa lebih ringan karena dikerjakan bersama-sama dengan hati yang gembira,” tuturnya sambil menikmati secangkir teh hangat.
Meneguhkan Kultur Akademik yang Berkarakter dan Berakar Kuat
Keberhasilan penyelenggaraan pengajian rutin perdana pada Jumat, 14 Agustus 2026 ini memberikan pesan yang sangat jelas: pencapaian standar mutu akademik dan pembinaan spiritual bukanlah dua hal yang saling meniadakan, melainkan dua sayap yang saling melengkapi dalam membentuk manusia seutuhnya.
Di era disrupsi teknologi dan persaingan global yang kerap kali menuntut hasil instan dan serba materialistis, keberadaan ruang-ruang perjumpaan batin yang mengedepankan ketulusan, doa, dan silaturahmi menjadi jangkar moral yang sangat fundamental. Mahasiswa dan sivitas akademika tidak hanya membutuhkan peningkatan kompetensi teknis, tetapi juga penguatan ketahanan mental dan spiritual guna menghadapi kompleksitas kehidupan modern.
STIE Dwimulya membuktikan bahwa sebagai kampus rakyat yang berakar kuat di tengah denyut kehidupan masyarakat Banten, nilai-nilai ketakwaan, kerendahan hati, dan solidaritas sosial akan selalu menjadi kompas utama dalam menapaki masa depan pendidikan tinggi. Majelis pengajian mingguan ini direncanakan akan terus dikembangkan dengan melibatkan perwakilan mahasiswa dan alumni, sehingga tradisi kebersamaan ini dapat terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Jarum jam telah menunjukkan pukul 20.30 WIB ketika para peserta pengajian mulai berpamitan dan bersiap melangkah pulang ke kediaman masing-masing. Udara malam di Serang terasa sejuk, dan deru kendaraan di jalan raya perlahan melambat. Malam telah larut, namun cahaya ketenangan, kehangatan persaudaraan, dan semangat baru yang terpancar dari majelis Jumat perdana ini akan terus menyertai denyut nadi kehidupan kampus STIE Dwimulya pada hari-hari ke depan.